Hidup identik dengan harapan. Sehingga ketika masih ada kehidupan berarti masih ada setumpuk harapan. Selama kita hidup di dunia ini, pasti ada berbagai macam harapan yang coba kita bangun dan coba untuk kita raih. Jika ada manusia yang hidup tanpa ada harapan, maka sesunggunya ada sesuatu yang tidak benar dengan hidup kita. Sebab setiap yang orang yang percaya kepada Yesus Kristus harus berpengharapan di dalam Dia yang adalah sumber pengharapan.
Tak tersangkali bahwa berharap adalah suatu hal yang identik dengan resiko. sebab, semakin besar harapan yang kita rajut terhadap suatu hal maka semakin besar pula kemungkinan untuk kecewa. jadi, ketika kita mempunyai banyak harapan maka sebanyak itu juga kesiapan kita untuk kecewa. Karena tidak selamanya apa yang kita harapkan senada dengan kenyataan yang ada. Sehingga sering kali karena merasa dikecewakan, seseorang terkadang mengalami putus asa yang luar biasa dan bahkan memutuskan untuk berhenti berharap.
Ayub adalah salah satu pribadi yang konsisten dengan harapan dan kepada siapa dia beharap. bahkan komitmennya untuk mempercayai Allah tidaklah pudar dengan berbagai-bagai persoalan yang menderanya. walaupun berulangkali dikecewakan, namun Ayub tidak pernah merasa ditinggalkan oleh Tuhan. Kehilangan kekayaan, keluarga, Kesehatan yang buruk bahkan teman-teman yang menhakimi Ayub seharusnya bisa menjadi alasan untuk meninggalkan Tuhan atau bahkan tidak lagi mempercayainya. Namun hal itu tiaklah dilakukan oleh Ayub sebab dia percaya bahwa hanya kepada Tuhan yang dia percaya Ayub bisa berharap. Ayub percaya bahwa hanya Allah saja ang bisa menjadi jaminan bagi perjalanan kehidupannya.
Ayub percaya bahwa apa pun yang menimpah hidupnya, semua terjadi atas ijin Allah dan berada dalam kendaliNya dengan maksud dan tujuan yang baik. Ayub pun percaya bahwa mulainya sampai berhentinya persoalan pelik yang dia alami, hanya terjadi sesuai dengan ijin Tuhan.
Dengan penuh keyakinan dan pengharapan yang sungguh, Ayub berkata pada ayatnya yg ke 3 "Biarlah Engkau menjadi jaminanku,bagiMu sendiri! Siapa lagi yang dapat membuat persetujuan bagiku?".
Dalam kehidupan kita, pasti kita pernah mengalami situasi yang hampir sama dengan situasi yang dialami Ayub, walaupun mungkin tidak seExtrim kisah Ayub. Lalu apa respon kita?. Apakah kita kecewa kepada Tuhan dan berniat berpaling dariNya?
Mari belajar dari kekonsistenan Iman Ayub dalam menghadapi berbagai penderitaan dan tekanan hidup yang dialaminya yang tidak menjadikan semua itu sebagai alasan untuk berhenti berharap kepada Tuhan. Tetapi justru lewat persoalan yang kita hadapi kita seharusnya semakin menggantungkan harapan kita kepada Allah yang kita percayai. Sebab hanya Dia yang akan menjadi jaminan hidup kita. So.........don't lose your hope.
Mari belajar dari kekonsistenan Iman Ayub dalam menghadapi berbagai penderitaan dan tekanan hidup yang dialaminya yang tidak menjadikan semua itu sebagai alasan untuk berhenti berharap kepada Tuhan. Tetapi justru lewat persoalan yang kita hadapi kita seharusnya semakin menggantungkan harapan kita kepada Allah yang kita percayai. Sebab hanya Dia yang akan menjadi jaminan hidup kita. So.........don't lose your hope.

No comments:
Post a Comment