Pages

Monday, November 5, 2012

Mengerti kehendak Tuhan (Efesus 5:1-21)

Suatu yang benar belum tentu baik adanya, tetapi sesuatu yang baik sudah pastilah benar. Mengerti dan memahami kehendak Tuhan adalah suatu hal yang harus dimiliki dan dipahami oleh setiap orang sebagai orang percaya. “sebab itu janganlah kamu bodoh.Tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan” ayat 17. Dengan tegas Rasul paulus menyampaikan pesan ini kepada jemaat di Efesus. Dia mau setiap umat kepunyaan Tuhan yang ada di sana, hidup sesuai dengan kehendak Tuhan.
Kehendak Tuhan yang dinyatakan Rasul Paulus kepada jemaat di Efesus sangat jelas pada ayat yang ke 15 dan 16. Untuk mengerti dan memahami kehendak Allah hanya bisa kita dapatkan jika Firman Tuhan menjadi makanan Rohani kita setiap hari dan menghidupi Firman itu. Orang yang selalu setia membaca Firman Tuhan dan menghidupi Firman Tuhan, maka dia akan mengerti dan memahami kehendak Tuhan dalam Hidupnya. Dia akan tahu apa yang Tuhan inginkan dan Tuhan mau  baginya dalam mengisi hari-hari hidupnya di dunia ini.
Rasul Paulus Dalam Kolose pasal 1:9-10 juga menjelaskan bagaiman cara untuk mengerti kehendak Tuhan dalam hidup kita.    Mendengar dan membaca Firman Tuhan tidaklah cukup untuk mengerti dan memahami kehendak Tuhan. Tetapi pada kol 1: 9 dikatakan bahwa setelah mendengar, tiada henti-hentinya mereka berdoa memohon hikmat dan pengertian untuk memahami kehendak Tuhan. Hidup sesuai dengan Kehendak Tuhan menjadi standar Allah, apakah kita benar dan layak di hadapan Allah. Jika hidup yang kita jalani sesuai kehendak Tuhan, maka kita akan menghasilkan buah dalam segala pekerjaan yang baik dan bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah.
Kebenaran dan kebaikan yang kita pergunakan adalah sesuai dengan standar Allah. Sesuatu yang baik dan benar bagi manusia belum tentu baik dan benar bagi Allah tetapi sesuatu yang baik dan benar bagi Allah adalah kebaikan dan kebenaran yang mutlak bagi manusia. Sehingga standar yang berlaku dalam kehidupan manusia adalah standar baik dan benar menurut Allah.
Sebagai orang-orang tebusan Allah yang masih diperkenankan hidup di dunia ini. Kita harus menyadari bahwa kita adalah manusia yang lemah dan terbatas dalam hal kemampuan untuk hidup baik dan benar di hadapan Tuhan. Kehidupan di dunia saat ini, sangat memungkinkan untuk tidak hidup baik dan benar di hadapan Tuhan, karena Kbenaran sudah diperjual belikan. Memang tidak mudah, sbab Ada harga yang harus dibayar untuk hidup sesuai dengan kehendak Tuhan.  Harga mati yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.
Orang yang hidup sesuai  kehendak Tuhan adalah orang yang mengetahui dan memahami segala jalan Tuhan, rancangan Tuhan atas hidupnya. Sangat sulit memang namun itulah Tuntutan Allah yang harus dipenuhi oleh orang yang percaya kepadaNya. Kuncinya adalah membaca Firman Tuhan dan  berdoa mohon hikmatNya.  


Sunday, November 4, 2012

Lebih dari cukup........(Ulangan 28:5-14)

Mobil mewah, rumah yang nyaman, pakaian yang bagus, tabungan dan deposito yang banyak adalah impian semua orang.  Kita tahu bahwa kebutuhan setiap individu terdiri atas tiga bagian, kebutuhan primer(pokok), kebutuhan sekunder(pelengkap) dan kebutuhan tersier (mewah). Setiap orang menginginkan hidupnya kini dan nanti selalu berjalan dengan normal dan berkecukupan. Dengan dasar kebutuhan inilah, setiap individu berusaha dan bekerja keras untuk memenuhinya. Tidak jarang orang menenmpu berbagai cara untuk bisa memenuhinya, baik itu cara yang benar dan cara yang tidak benar. 
Tuhan mengaruniakan kepada setiap orang kemampuan berpikir yang dengannya kita dapat merencanakan dan melakukakan apa yang terbaik menurut kita untuk hidup sekarang dan untuk masa yang akan datang. Namun masalahnya terletak pada manusi yang seringkali mengandalkan potensi dirinya dari pada kepada Tuhan yang mengaruniakan potensi itu. 
Ulangan 28:5-8 memberi jaminan bahwa Tuhan selalu memberikan yang terbaik bagi hidup umatNya. pada ayat yang ke-5 menegaskan tentang Allah yang adalah sumber berkat untuk kebutuhan riil sehari-hari khususnya kebutuhan pangan(makanan). ayat 6 adalah jaminan bahwa Tuhan akan meluputkan umatNya dari tangan musuhnya dan ayat 8 tentang jaminan bahwa masa depan dan segala usaha akan dibuatNya berhasil. .
penguatan jaminan ini sesungguhnya dinyatakan kepada bangsa Israel yang mulai merasa kuatir akan hidup dan masa depannya ketika mereka hendak memasuki negeri yang Tuhan janjikan kepada nenek moyang mereka.  Janji Tuhan seharusnya menjadi suatu jaminan yang tidak perlu diragukan oleh bangsa Israel sepanjang mereka tetap setia kepada Allah(ayat 1). 
Jika Tuhan yang telah memanggil mereka keluar dari tanah perbudakan, maka Tuhan yang sama juga akan memelihara dan menuntun serta menjamin hidup dan masa depan mereka di negeri yang berlimpah susu dan madunya.
Masih banyak orang percaya yang masih meragukan janji dan jaminan Tuhan atas hidup dan masa depannya. Hal ini disebabkan oleh karena tanpa sadar kita seringkali lebih mengandalkan hasil perhitungan dan kalkulasi kita sendiri dari pada penyerahan diri atas apa yang Tuhan kehendaki bagi diri dan hidup kita. 
Kekuatiran akan bagaimana hidup dan masa depan kita seringkali membuat kita kurang gigih dalam berjuang dan memperjuangkan kebenaran, keadilan, dan kejujuran. Kekuatiran ini jugalah yang membuat banyak anak-anak Tuhan terjerat dalam kasus korupsi, kasup suap menyuap, premanisme,dll. Bahkan tidak jarang anak-anak Tuhan yang memperjual belikan keadilan. Sesungguhnya semua itu dilakukan hanya sekedar untuk pemenuhan standar kehidupan yang lebih. 
Jika burung-burung di udara masih bisa hidup dan diberi makan oleh Bapa kita tanpa harus bekerja, apakah manusia tidak lebih berharga dari pada itu. Janji Tuhan kepada bangsa Israel sesungguhnya itu juga menjadi jaminan bagi setiap orang yang percaya kepadaNya. Dan jika Tuhan masih mempercayakan hidup ini untuk kita jalani maka Tuhan pasti punya cara untuk mencukupkan segala kebutuhan kita hari ini, esok dan selamanya. Karena itu, kita jangan pernah meragukan berkat dan anugrah Tuhan dalam hidup kita. Asalkan kita percaya dan melakukan segala yang diperintahkan Tuhan maka Berkat Tuhan akan senantiasa melimpah dalam kehidupan kita. Ora et labora. 

Thursday, November 1, 2012

Don't lose your hope (Ayub 17:1-3)

Hidup identik dengan harapan. Sehingga ketika masih ada kehidupan berarti masih ada setumpuk harapan. Selama kita hidup di dunia ini, pasti ada berbagai macam harapan yang coba kita bangun dan coba untuk kita raih. Jika ada manusia yang hidup tanpa ada harapan, maka sesunggunya ada sesuatu yang tidak benar dengan hidup kita. Sebab setiap yang orang yang percaya kepada Yesus Kristus harus berpengharapan di dalam Dia yang adalah sumber pengharapan.
Tak tersangkali bahwa berharap adalah suatu hal yang identik dengan resiko. sebab, semakin besar harapan yang kita rajut terhadap suatu hal maka semakin besar pula kemungkinan untuk kecewa. jadi, ketika kita mempunyai banyak harapan maka sebanyak itu juga kesiapan kita untuk kecewa. Karena tidak selamanya apa yang kita harapkan senada dengan kenyataan yang ada. Sehingga sering kali karena merasa dikecewakan, seseorang terkadang mengalami putus asa yang luar biasa dan bahkan memutuskan untuk berhenti berharap.
Ayub adalah salah satu pribadi yang konsisten dengan harapan dan kepada siapa dia beharap. bahkan komitmennya untuk mempercayai Allah tidaklah pudar dengan berbagai-bagai persoalan yang menderanya. walaupun berulangkali dikecewakan, namun Ayub tidak pernah merasa ditinggalkan oleh Tuhan. Kehilangan kekayaan, keluarga, Kesehatan yang buruk bahkan teman-teman yang menhakimi Ayub seharusnya bisa menjadi alasan untuk meninggalkan Tuhan atau bahkan tidak lagi mempercayainya. Namun hal itu tiaklah dilakukan oleh Ayub sebab dia percaya bahwa hanya kepada Tuhan yang dia percaya Ayub bisa berharap.  Ayub percaya bahwa hanya Allah saja ang bisa menjadi jaminan bagi perjalanan kehidupannya. 
Ayub percaya bahwa apa pun yang menimpah hidupnya, semua terjadi atas ijin Allah dan berada dalam kendaliNya dengan maksud dan tujuan yang baik. Ayub pun percaya bahwa mulainya sampai berhentinya persoalan pelik yang dia alami, hanya terjadi sesuai dengan ijin Tuhan. 
Dengan penuh keyakinan dan pengharapan yang sungguh, Ayub berkata pada ayatnya yg ke 3 "Biarlah Engkau menjadi jaminanku,bagiMu sendiri! Siapa lagi yang dapat membuat persetujuan bagiku?".
Dalam kehidupan kita, pasti kita pernah mengalami situasi yang hampir sama dengan situasi yang dialami Ayub, walaupun mungkin tidak seExtrim kisah Ayub. Lalu apa respon kita?. Apakah kita kecewa kepada Tuhan dan berniat berpaling dariNya?
Mari belajar dari kekonsistenan Iman Ayub dalam menghadapi berbagai penderitaan dan tekanan hidup yang dialaminya yang tidak menjadikan semua itu sebagai alasan untuk berhenti berharap kepada Tuhan. Tetapi justru lewat persoalan yang kita hadapi kita seharusnya semakin menggantungkan harapan kita kepada Allah yang kita percayai. Sebab hanya Dia yang akan menjadi jaminan hidup kita. So.........don't lose your hope. 

Wednesday, October 31, 2012

Hati seorang hamba (Markus 10:35-45)

 Apa yang akan anda lakukan jika ada seorang yang anda kagumi atw sangat anda hormati, menelfon dan berkata dia akan datang membersihkan rumah anda?. Mungkin respon yang nampak  adalah anda akan kaget, merasa tidak percaya, berkata itu mustahil, dan bahkan kita akan merasa mungkin diri kita sedang bermimpi. Tapi itulah yang hendak ditunjukkan oleh Allah kepada Dunia melalui pengutusan AnakNya ke dunia sebagai manusia biasa dan mengambil rupa seorang hamba.
“Hati boss tidak mungkin bisa melayani, hati hamba yang Tuhan cari..” merupakan ungkapan skaligus  refleksi dari Markus 10:35-45. Mengapa? Karena pada masa sekarang ini banyak oang yang mengerjakan pelayanan hanya untuk memperkaya diri. Misalnya mencari popularitas, atau sekedar sebagai kebanggaan diri. Sangat jarang menemui orang yang melayani dengan hati dan motivasi yang murni. Itulah sebabnya berbagai-bagai perpecahan terjadi di kalangan orang kristen. Semua orang merasa dirinya lebih baik, lebih pintar, lebih bisa dari orang lain, sehingga keegoisanlah yang dipertontonkan. Masalah hati memang sangat krusial. Tuhan Yesus mengecam ahli taurat dan orang farisi bukan karena aktifitas keagamaan mereka, tapi karena hati mereka yang penuh kebusukan dan kemunafikan. Sesungguhnya hal pertama yang Dia lihat dari pribadi yang melayani Nya adalah hati.
“Ia datang ke dunia ini bukan untuk dilayani tetapi untuk melayani” suatu ungkapan yang mungkin sudah sering kita dengar dan terdapat dalam ayatnya yang ke 45.  Satu ungkapan yang menggambarkan tujuan Allah mengutus anaknya Yesus Kristus ke dunia ini. Maka hal inilah yang hendak Yesus ajarkan kepada murid-muridNya dan bagi setiap orang yang percaya kepadanya. Dalam pembacaan ini, Tuhan ingin menyampaikan pentingnya murid-murid memiliki hati seperti hamba.
Kata “Hamba” identik dengan kesederhanaan dan ketaatan. Seorang hamba akan melakukan apa saja yang diperintahkan tuannya. Sikap hati seperti inilah yang Yesus harapkan ada pada setiap diri manusia yang mau melayaniNya. Tapi sebelum kita melayani sesama, ada satu hal yang sering skali kita abaikan bahkan mungkin kita lupakan. Hal yang terpenting itu adalah “Relasi dengan Allah”. Banyak orang yang melayani sesama dengan embel-embel supaya dipuji, dihormati dan tidak dengan motivasi yang benar. Ketika kita disibukkan dengan berbagai-bagai pelayanan yang kita kerjakan, bahkan sampai kita mengabaikan urusan yang bersifat pribadi (kesehatan, waktu bersama keluarga,dll) dan yang paling fatal adalah kita bahkan tidak memiliki waktu khusus untuk berbicara secara pribadi dengan Tuhan. Hal ini terjadi karena pemahaman banyak orang tentang melayani Tuhan adalah aktif dalam kegiatan rohani di lingkungan gereja, yaitu dengan mengambil bagian dalam tugas tertentu. Jika demikian, maka kita perlu bertanya pada diri kita untuk siapa pelayanan yang kita kerjakan. Sebab barangsiapa mengasihi Tuhan, ia pasti melayani Tuhan. Sebelum kita melayani sesama, kita harus melayani Tuhan dulu.
Pelayanan yang murni lahir dari kecintaan kita kepada Allah. Kecintaan kepada Allah lahir dari relasi yang intim dengan Allah. Memiliki relasi yang intim dengan Allah akan melahirkan kerinduan yang mendalam kepada Allah. Seperti nyanyian Daud dalam Maz 28;1-2. Pemazmur sadar betul bahwa tanpa Tuhan dia seperti turun kedalam liang kubur. Demikianpun seharusya kita memiliki kebergantungan penuh kepada Allah dan membangun relasi yang intim denganNya. Jika kita mampu mengasihi dengan sungguh-sungguh Allah yang tidak kelihatan, maka tentulah kita juga pasti dapat mengasihi sesama kita yang kita layani.
Sebetulnya untuk melakukan kehendak Tuhan kita harus memahami pikiran dan perasaan Tuhan, sehingga melakukan segala sesuatu tepat seperti yang diingini-Nya. Mengenal kebenaran akan membuat kita menjadi cerdas untuk mengerti kehendak-Nya, dan dengan melakukan apa saja yang dikehendaki-Nya, kita melayani-Nya. Kecintaan kita kepada Allah akan melahirkan sikap hati seorang hamba. Yang mau merendahkan diri, mengerjakan tugas dan tanggung jawabnya sesuai dengan perinta tuannya. Karena orang –orang yang melayani dengan hati seorang hambalah yang berhak untuk duduk disamping kanan dan kiri Allah.


Sunday, October 28, 2012

Epen k dengan koe......?


Istilah “Epen” sudah  sangat lazim di pendengaran orang-orang yang berada di daerah Indonesia bagian Timur, khususnya Papua. Istilah ini sesunggunya sudah lama, namun mulai dikenal banyak orang melalui cerita lucu “Mop” yang diperankan oleh seorang pria asal Merauke-Papua yang bernama Dodi. Yang saya hendak jelaskan bukanlah soal Mop dari papua ini melainkan Istilah yang sedang berkembang ini. Istilah “Epen = penting”. Jadi kalau ada yang mengatakan “Epen k dengan koe? atau Epen k dengan Dia?” berarti kita sedang menyatakan ketidak ingin tahuan kita dengan orang yang dengannya kalimat ini kita lontarkan. sesungguhnya kalimat ini mengandung makna Negatif yang merujuk pada adanya keegoisan dalam diri kita ketika mengeluarkan kalimat ini.
Egois= Individualisme, sesunguhnya mengandung arti mementingkan diri sendiri atau segala sesuatu berpusat pada dirinya sendiri, mendahulukan kenyamanan dan kentingan diri dengan mengorbankan kepentingan dan kenyamanan orang lain. Tidak dapat dipungkiri bahwa pada masa sekarang keegoisan setiap individu sangat nampak kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Contoh kecil, membangun tembok yang setinggi mungkin untuk memagari rumah. Seakan tak mau orang lain mengganggunya dan pun tidak ingin mengetahui apa yang terjadi di sekeliling rumahnya. Orang yang egois adalah orang yang menjadikan dirinya sebagai pusat, mengutamakan kepentingan diri dan perasaannya sendiri tanpa memperdulikan kepentingan dan perasaan orang yang ada di sekitarnya.
Bacaan kita hari ini(Yacobus 3:13-18), sesungguhnya menentang akan hal keegoisan dalam mengerjakan pelayanan. Surat yang ditulis oleh Yacobus sendiri yang adalah saudara seibu Yesus Kristus ditujukan kepada kedua belas suku yang tersebar di antara bangsa-bangsa (Orang Kristen Yahudi) dan juga bagi setiap kita yang percaya. Isi dari kitab Yacobus sendiri menekankan bahwa memiliki Iman saja Tidaklah cukup. Kita harus memiliki Iman yang terlihat Nyata dalam perbuatan baik, dan itu meliputi kesombongan, prasangka, kemunafikan, keduniawian, lidah yang sukar dikendalikan, dan sikap Apatis.
Tuhan memanggil kita untuk menjadi berkat dan kesaksian bagi orang lain, bukan lagi hdup untuk diri sendiri atau mementingkan diri sendiri. Sehingga apabila ada orang Kristen yang mengerjakan pelayanan dan memiliki motivasi yang berpusat pada dirinya, sesungguhnya dia tidak pantas untuk melayani. Mengapa Yacobus dengan keras menentang sikap mementingkan diri sendiri pada ayat 14 dan 15? Karena sesungguhnya dai sikap inilah akan timbul kekacauan dan segala macam perbuatan jahat. Kita tahu bahwa orang yang egois akan melakukan apa saja demi mewujudkan apa yang diinginkan, tidak peduli hal itu menyakiti mengorbankan perasaan orang lain. Bila kita terus dikuasai dan dikendalikan oleh keegoisan, maka dalam diri kita akan timbul dosa yang bau yaitu kikir/pelit alias tidak punya belas kasihan/tidak murah hati terhadap orang lain. Jika demikian maka ini sungguh bertentangan dengan apa yang dikehendaki oleh Yesus yang harus dimiliki oleh orang yang mengerjakan pelayananNya. Alkitab menegaskan “hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati(luk 6:36) dan Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan (Matius 5:7)”.
Sesungguhnya, jangan lagi kita dikendalikan oleh keegoisan atau sikap mementingkan diri sendiri, karena jika hal itu terus menerus kita biarkan, maka itu bisa menjadi batu sandungan bagi diri kita dan orang lain. Jika demikian, mari melihat kedalam diri kita masing-masing. Buang sift egoisme atau sikap mementingkan diri sendiri dan hiduplah sebagai orang-orang yang memiliki sikap murah hati seperti yang dimiliki Bapa kita yang adalah pemilik pelayanan yang kita kerjakan. Sehingga ketika sang Tuan pulang, kita kedapatan menjadi pekerja-pekerja yang bertanggung jawab dengan pekerjaan yang sudah dipercayakan kepada kita. Kita diselamatkan hanya oleh Iman, tetapi iman yang menyelamatkan ini tidaklah berdiri sendiri. Iman kita dinyatakan melalui ketaatan dan buah yang dihasilkan melalui pelayanan yang kita kerjakan.Amin