Seorang gadis sedang terseduh-seduh ketika selesai mengikuti suatu ibadah dalam sebuah Ibadah Persekutuan Besar. Seorang teman satu persekutuan lalu mendekatinya. dengan senyuman hangat dia menyapa gadis itu. Karena merasa nyaman dengan senyuman yang hangat itu, sang gadis pun bercerita panjang lebar mengenai pergumulan yang ia hadapi dan konflik bersama dengan sangke. Tidak lama berselang berita mengenai pergumulan yang dihadapi dengan sangke pun beredar luas. cek per cek informasi tersebut bersumber dari rekan satu persekutuan tempat sang gadis menceritakan semua beban pergumulanya. Ketika ditanya, rekannya itu berdalih "Untuk didoakan bersama".Sang gadis pun menyesal telah mempercayainya dan merasa dikhianati.
Pernahkah anda dikhianati? bagaimana perasaan anda ketika dikhianati?. Pengalaman dikhianati sangat menyakitkan, apalagi jika sang pengkhianat bisa membungkusnya dengan rapih dan cantik "kemasan rohani". Yudas memakai ciuman untuk mengkhianati Yesus. Ciuman di
kening adalah tanda kasih, kedekatan, dan persaudaraan. Dengan
ciuman itu Yudas berharap bisa menangkap Yesus secara elegan. Pikirnya,
Yesus dan para murid pasti mengira ia masih tetap mengasihi Yesus. Sandiwara cinta ini mungkin bisa menipu para murid, tetapi
Yesus tidak bisa ditipu. Dia tahu ciuman Yudas tidak tulus. Bukan
tanda kasih, melainkan tanda pengkhianatan.
Ciuman khianat seorang murid yang menyerahkan gurunya ke
tangan musuh-musuh-Nya. Itulah yang dilakukan oleh Yudas Iskariot, pada waktu
menyerahkan Tuhan Yesus kepada orang-orang suruhan imam-imam kepala, ahli
Taurat dan tua-tua bangsa Israel. Mereka datang bersama Yudas dengan membawa
pedang dan pentung ke taman Getsemani, di mana Tuhan Yesus sedang menyendiri
dan berdoa kepada Tuhan Allah. Yudas sudah mengadakan kesepakatan dengan para
iman kepala dan ahli Taurat serta tua-tua, bahwa orang yang diciumnya itulah
orang yang harus ditangkap.
Dengan sebuah ciuman Yudas Iskariot menyerahkan Yesus agar
ditangkap dan diadili. Pada waktu Tuhan Yesus ditangkap, ia tidak melawan.
Namun salah seorang dari murid Tuhan Yesus, yang berada di sekitar situ
menghunus pedangnya. Lalu meletakkannya kepada hamba Imam Besar hingga putus
telinganya. Namun Yesus berkata,”Sudah cukup.” Ia menjamah telinga orang itu
dan menyembuhkannya (Lukas 22:51). Tuhan Yesus tahu, bahwa waktunya sudah tiba,
bahwa ia akan ditangkap, diadili, disiksa dan dihukum mati di kayu salib. Kata
Yesus kepada mereka,”Sangkamu Aku ini penyamun, maka kamu datang lengkap dengan
pedang dan pentung untuk menangkap Aku? Padahal tiap-tiap hari Aku ada di
tengah-tengah kamu mengajar di Bait Allah, dan kamu tidak mengkap Aku
Kalau kita merenung sejenak, apakah bentuk kasih yang kita nyatakan kepada seseorang menjadi alat terselubug untuk mencapai tujuan pribadi kita?. Seseorang bisa sangat menghargai dan menghormati hanya agar dapat terus menikmati keuntungan tertentu. Seorang ayah bisa jauh terlibat dalam kehidupan anaknya hanya sekedar memperoleh kedekatan yang mungkin tidak pernah ia dapatkan dari orang tua sebelumnya. Banyak alasan yang dapat menipu diri kita dan orang lain dari menyayangi dengan sepenuh hati. jadi apakah kita sudah mengasihi dengan Tulus?. Bersikap ramah dan hangat itu perlu. Sebuah jabat tangan,
pelukan, ciuman, dan sikap penuh perhatian penting untuk menyatakan
kasih. Namun, pastikan kita melakukannya dengan tulus. Tanpa
kamuflase. Sebab jika kita memakainya sekadar untuk menjaga
"topeng kerohanian"
kita, orang akan merasa ditipu dan dikhianati. Tidak jauh berbeda dengan ciuman Yudas!
![]() |

No comments:
Post a Comment