Pages

Sunday, November 25, 2012

Jaga Image

Apa yang ada dibenak kita ketika mendengar kata integritas?. Dalam sebuah kamus kata “integritas” dijabarkan sebagai keterpaduan antara kesempurnaan dan ketulusan. Sementara ada defenisi lain yang mendefenisikan integritas sebagai sebuah tindakan yang konsisten dengan mengamalkan nilai-nilai kebenaran, meski tengah berada dalam kondisi sulit sekalipun untuk melakukannya. Atau dengan kata lain konsistensi antara perkataan dan perbuatan, antara yang diajarkan dengan tindakan.
Kata Petrus kepadanya: "Katakanlah kepadaku, dengan harga sekiankah tanah itu kamu jual?" Jawab perempuan itu: "Betul sekian." (Kisah 5:8) Apa yang dapat kita pikirkan tentang Ananias dan Safira? Apa yang mendorong mereka melakukan hal tersebut? Mengapa mereka melakukan hal tersebut?. Ananias dan Safira ingin tetap terlihat “baik” di mata para rasul dan jemaat dengan menjual tanah dan memberikan hasil penjualannya. Persoalan utamanya bukan pada berapa jumlah yang mereka berikan, tapi persoalan utamanya terletak pada kebohongan yang mereka lakukan. Mereka tidak mengatakan yang sebenarnya jumlah dari hasil keseluruhan penjualan tanah yang mereka peroleh. Kesannya seakan-akan mereka tidak mengambil keuntungan apapun dari penjualan tersebut, ternyata tidak! Mereka menahan sebahagian dan melapor yang tidak jujur kepada Petrus. Mereka berpikir dan terdorong oleh reputasi, mereka ingin terkesan bahwa mereka juga punya peran yang significant di dalam pergerakan kasih jemaat mula-mula, mereka ingin dipandang baik, ingin dipandang dermawan, tapi sebenarnya mereka tidak mau rugi. Dan Tuhan tau itu! Bahwa mereka tidak jujur.
Ini adalah persoalan INTEGRITAS. Sesuatu yang jarang kita jumpai di zaman ini, dikalangan pemimpin rohani sekalipun ini menjadi sesuatu yang langka untuk kita dapati. Integritas dimengerti sebagai “ completeness, wholeness, unified, dan entirety”, semuanya berarti satu KEUTUHAN atau KESESUAIAN. Keutuhan yang dimaksud adalah keutuhan dari seluruh aspek kehidupan, terutama antara perkataan dan perbuatan. Integritas tidaklah sama dengan citra diri (image). Image adalah persepsi orang mengenai diri kita, sedangkan integritas adalah siapa kita sesungguhnya.
Lalu apa yang hendak ditegaskan pada bacaan ini dalam hal dicabutnya nyawa Ananias dan shafira seketika itu juga saat  mereka berbohong?, yang mau ditegaskan adalah Tuhan tidak pernah kompromi dengan dosa dalam bentuk apapun. Dosa di sini dalam hal berbohong yang dilakukan Ananias dan Shafira. Yusuf yang disebut Barnabas pada Kis 4:36-37 juga memiliki kesamaan dengan Ananias dan Shafira dalam hal menjual tanah. Tetapi Yusuf lebih tulus untuk mempersembahkan apa yang dia miliki.Jadi sangat jelas bahwa Tuhan tidak melihat dari jumlah tetapi hati yang mau membri dengan tulus dan ikhlas.
Karena itu, jangan melakukan segala sesuatu hanya karena mengejar reputasi, apalagi sampai rela melakukan apa saja termasuk dosa demi reputasi, tetapi lakukan segala sesuatu dengan sikap takut akan Tuhan. Tuhan tahu semua yang kita pikirkan dan kerjakan, tidak ada yang tersembunyi di hadapan-Nya, dan semua yang kita lakukan pasti ada upahnya. Ananias dan Safira menjadi contoh yang mengerikan akibat kehilangan integritas. Hal seperti ini mungkin tidak terjadi di zaman kita, tapi ada akibat lain yang tidak kalah hebatnya akan terjadi dalam hidup kita ketika kita kehilangan integritas. Antara lain: kita tidak menemukan “buah” dalam pelayanan kita, kita kehilangan kepercayaan dari orang-orang yang dekat dengan kita, kita kehilangan berkat-berkat rohani dalam hidup dan pelayanan kita (today manna). Amin

No comments:

Post a Comment