Apa yang ada dibenak kita ketika
mendengar kata integritas?. Dalam sebuah kamus kata “integritas” dijabarkan
sebagai keterpaduan antara kesempurnaan dan ketulusan. Sementara ada defenisi
lain yang mendefenisikan integritas sebagai sebuah tindakan yang konsisten
dengan mengamalkan nilai-nilai kebenaran, meski tengah berada dalam kondisi
sulit sekalipun untuk melakukannya. Atau dengan kata lain konsistensi antara
perkataan dan perbuatan, antara yang diajarkan dengan tindakan.
Kata Petrus kepadanya:
"Katakanlah kepadaku, dengan harga sekiankah tanah itu kamu jual?"
Jawab perempuan itu: "Betul sekian." (Kisah 5:8) Apa yang dapat kita
pikirkan tentang Ananias dan Safira? Apa yang mendorong mereka melakukan hal
tersebut? Mengapa mereka melakukan hal tersebut?. Ananias dan Safira ingin
tetap terlihat “baik” di mata para rasul dan jemaat dengan menjual tanah dan
memberikan hasil penjualannya. Persoalan utamanya bukan pada berapa jumlah yang
mereka berikan, tapi persoalan utamanya terletak pada kebohongan yang mereka
lakukan. Mereka tidak mengatakan yang sebenarnya jumlah dari hasil keseluruhan
penjualan tanah yang mereka peroleh. Kesannya seakan-akan mereka tidak
mengambil keuntungan apapun dari penjualan tersebut, ternyata tidak! Mereka menahan
sebahagian dan melapor yang tidak jujur kepada Petrus. Mereka berpikir dan
terdorong oleh reputasi, mereka ingin terkesan bahwa mereka juga punya peran
yang significant di dalam pergerakan kasih jemaat mula-mula, mereka ingin
dipandang baik, ingin dipandang dermawan, tapi sebenarnya mereka tidak mau
rugi. Dan Tuhan tau itu! Bahwa mereka tidak jujur.
Ini adalah persoalan INTEGRITAS.
Sesuatu yang jarang kita jumpai di zaman ini, dikalangan pemimpin rohani
sekalipun ini menjadi sesuatu yang langka untuk kita dapati. Integritas
dimengerti sebagai “ completeness, wholeness, unified, dan entirety”, semuanya
berarti satu KEUTUHAN atau KESESUAIAN. Keutuhan yang dimaksud adalah keutuhan
dari seluruh aspek kehidupan, terutama antara perkataan dan perbuatan.
Integritas tidaklah sama dengan citra diri (image). Image adalah persepsi orang
mengenai diri kita, sedangkan integritas adalah siapa kita sesungguhnya.
Lalu apa yang hendak ditegaskan pada
bacaan ini dalam hal dicabutnya nyawa Ananias dan shafira seketika itu juga saat
mereka berbohong?, yang mau ditegaskan
adalah Tuhan tidak pernah kompromi dengan dosa dalam bentuk apapun. Dosa di
sini dalam hal berbohong yang dilakukan Ananias dan Shafira. Yusuf yang disebut
Barnabas pada Kis 4:36-37 juga memiliki kesamaan dengan Ananias dan Shafira
dalam hal menjual tanah. Tetapi Yusuf lebih tulus untuk mempersembahkan apa
yang dia miliki.Jadi sangat jelas bahwa Tuhan tidak melihat dari jumlah tetapi
hati yang mau membri dengan tulus dan ikhlas.
Karena itu, jangan melakukan segala
sesuatu hanya karena mengejar reputasi, apalagi sampai rela melakukan apa saja
termasuk dosa demi reputasi, tetapi lakukan segala sesuatu dengan sikap takut
akan Tuhan. Tuhan tahu semua yang kita pikirkan dan kerjakan, tidak ada yang
tersembunyi di hadapan-Nya, dan semua yang kita lakukan pasti ada upahnya.
Ananias dan Safira menjadi contoh yang mengerikan akibat kehilangan integritas.
Hal seperti ini mungkin tidak terjadi di zaman kita, tapi ada akibat lain yang
tidak kalah hebatnya akan terjadi dalam hidup kita ketika kita kehilangan
integritas. Antara lain: kita tidak menemukan “buah” dalam pelayanan kita, kita
kehilangan kepercayaan dari orang-orang yang dekat dengan kita, kita kehilangan
berkat-berkat rohani dalam hidup dan pelayanan kita (today manna). Amin

No comments:
Post a Comment