Pages

Wednesday, November 14, 2012

Tak bersyarat.....

Beraktifitas seharian tentu akan membuat tenaga kita terkuras habis dan dengan otomatis  kita butuh tambahan energi untuk bisa terus beraktivitas. Saat kita pulang ke rumah, hanya ada satu harapan bahwa di rumah tersedia makanan yang dapat langsung kita makan untuk sekedar mengisi perut yang kosong , mengganti energy yang sudah hilang setelah beraktifitas seharian dan mengganti sel-sel yang rusak.  sehingga jika makanan yang tersedia di atas meja sungguh menggugah selera, tentu kita akan sangat senang skali, akan makan dengan lahap dan dengan senang hati akan nambah lagi, lagi dan lagi. Bagaimana dengan hal mengampuni?. 
Jika ada orang yang berbuat jahat atau menyakiti kita maka kita akan mengikuti prinsip dunia “Pembalasan lebih kejam dari perbuatan”. Padahal prinsip ini sungguh berbanding terbalik dengan prinsip kekristenan yang identik dengan kasih dan di dalamnya ada pengampunan.
Hal mengampuni adalah hal yang paling sulit saat kita harus memberlakukan prinsip kasih dalam hidup kita. Mungkin kalau kita diminta mengasihi keluarga kita, itu mudah saja… Kalau kita diminta mengasihi orang yang lemah, itu juga tidak sulit. Apalagi  untuk orang yang mudah terharu  dan berbelas kasihan melihat penderitaan orang lain. Tetapi, bagaimana kalau kita diminta mengampuni orang yang sudah berbuat kesalahan kepada kita. Mungkin kita akan mudah saja  mengampuninya “jika” kesalahannya tidak fatal, jika tidak terlalu menyakiti hati, jika tidak diulangi lagi. Bagaimana dengan orang yang menyakiti hati kita lagi, lagi, dan lagi? Bagaimana dengan sahabat yang menghina harga diri kita, bagaimana dengan teman atau sahabat yang menceritakan kejelekan kita kepada orang lain berulang-ulang kali?. Sungguh, sebuah hal yang sulit bagi kita untuk menata hati sehingga pengampunan itu bisa sampai berakar di hati. Tanpa disadari, terkadang pengampunan meminta sebuah syarat, misalnya: “Saya memaafkanmu, asal….” Atau “saya mengampuni kesalahannya, tapi…”.
Bagian Firman Tuhan hari ini, Tuhan Yesus ingin memberikan pengajaran bagi kita, bahwa seharusnya sebuah pengampunan itu tidaklah bersyarat. Bahkan, pengampunan itu seharusnya diberikan secara cuma-cuma dan terus menerus. Tapi mengapakah kita diminta oleh Tuhan Yesus untuk memberikan pengampunan lagi, lagi dan lagi?? (ayat 22). Karena Tuhan Yesus sudah mengampuni kita terlebih dahulu. Karya keselamatan Allah melalui kematian Yesus Kristus di kayu salib menunjukkan pengampunan yang Allah berikan kepada semua orang yang percaya, sebesar dan seberat apapun dosa yang kita lakukan(yesaya 1;18).
Dalam kekristenan, hal mengampuni itu tidak ada batasannya karena pengampunan adalah hal dasar bagi kehidupan orang percaya. Kita dilayakkan menjadi anak-nak Allah dan beroeh berkat-berkat dari Tuhan diawali oleh suatu pengampunan yang telah dikerjakan oleh Kristus di kayu salib(Efesus 1;7) dan dan pengampunan yang dari padaNya sempurna tanpa batas(1 Yoh 1;9).
Adakah diantara kita yang tidak pernah berbuat kesalahan? Tak seorang pun. Mari melihat diri kita sendiri, segala yang telah kita perbuat dalam kehidupan kita. Tentu tidak semuanya baik, tidak seluruhnya sempurna. Tetapi Allah yang penuh kasih senantiasa memelihara hidup kita.  Lalu, siapakah kita ini sehingga tidak mau memberi pengampunan kepada sesama?  Layakkah kita merasa sulit mengampuni orang lain?. Allah saja, yang adalah Sang empunya langit dan bumi bersedia dengan kerendahan mengampuni manusia, lalu mengapa kita tidak?
Jika hari ini kita gagal mengampuni, coba lagi. Kalau besok gagal mengampuni, coba lagi. Kalau lusa gagal mengampuni, coba lagi. Maka berkat Tuhan akan lagi, lagi, dan lagi memampukan kita semakin mudah memberikan pengampunan. Jika kita mengandalkan kekuatan kita sendiri, tentu kita tidak akan mampu. Mari serahkan diri kita kepada Tuhan, katakan “Inilah aku Tuhan, dengan segala keterbatasanku untuk bisa mengampuni. Tetapi aku mau berusaha mengampuni sesama, aku mau terus mencoba sampai pengampunan itu mampu membersihkan hatiku dari kebencian”.

No comments:

Post a Comment