Beraktifitas seharian tentu akan membuat tenaga kita terkuras habis dan dengan otomatis kita butuh tambahan energi untuk bisa terus beraktivitas. Saat kita pulang ke rumah, hanya ada satu harapan bahwa di rumah tersedia makanan yang dapat langsung kita makan untuk sekedar mengisi perut yang kosong , mengganti energy yang sudah hilang setelah beraktifitas seharian dan mengganti sel-sel yang rusak. sehingga jika makanan yang tersedia
di atas meja sungguh menggugah selera, tentu kita akan sangat senang skali, akan makan dengan lahap
dan dengan senang hati akan nambah lagi, lagi dan lagi. Bagaimana dengan hal mengampuni?.
Jika ada orang yang berbuat jahat atau menyakiti kita maka kita akan mengikuti prinsip dunia “Pembalasan lebih kejam dari perbuatan”. Padahal prinsip ini sungguh berbanding terbalik dengan prinsip kekristenan yang identik dengan kasih dan di dalamnya ada pengampunan.
Jika ada orang yang berbuat jahat atau menyakiti kita maka kita akan mengikuti prinsip dunia “Pembalasan lebih kejam dari perbuatan”. Padahal prinsip ini sungguh berbanding terbalik dengan prinsip kekristenan yang identik dengan kasih dan di dalamnya ada pengampunan.
Hal mengampuni adalah hal yang paling sulit saat kita harus memberlakukan prinsip kasih dalam hidup kita. Mungkin kalau kita diminta mengasihi keluarga kita, itu mudah saja…
Kalau kita diminta mengasihi orang yang lemah, itu juga tidak sulit. Apalagi untuk orang yang mudah terharu dan berbelas kasihan melihat
penderitaan orang lain. Tetapi, bagaimana kalau kita diminta mengampuni orang
yang sudah berbuat kesalahan kepada kita. Mungkin kita akan mudah saja mengampuninya “jika” kesalahannya
tidak fatal, jika tidak terlalu menyakiti hati, jika tidak diulangi lagi. Bagaimana
dengan orang yang menyakiti hati kita lagi, lagi, dan lagi? Bagaimana dengan sahabat
yang menghina harga diri kita, bagaimana dengan teman atau sahabat yang menceritakan kejelekan kita kepada orang lain berulang-ulang
kali?. Sungguh, sebuah hal yang sulit bagi kita untuk menata hati sehingga
pengampunan itu bisa sampai berakar di hati. Tanpa disadari, terkadang
pengampunan meminta sebuah syarat, misalnya: “Saya memaafkanmu, asal….” Atau “saya mengampuni kesalahannya, tapi…”.
Bagian Firman Tuhan hari ini, Tuhan Yesus ingin memberikan pengajaran
bagi kita, bahwa seharusnya sebuah pengampunan itu tidaklah bersyarat. Bahkan,
pengampunan itu seharusnya diberikan secara cuma-cuma dan terus menerus. Tapi
mengapakah kita diminta oleh Tuhan Yesus untuk memberikan pengampunan lagi,
lagi dan lagi?? (ayat 22). Karena Tuhan Yesus sudah mengampuni kita terlebih
dahulu. Karya keselamatan Allah melalui kematian Yesus Kristus di kayu salib
menunjukkan pengampunan yang Allah berikan kepada semua orang yang percaya,
sebesar dan seberat apapun dosa yang kita lakukan(yesaya 1;18).
Dalam kekristenan, hal mengampuni itu tidak ada batasannya karena
pengampunan adalah hal dasar bagi kehidupan orang percaya. Kita dilayakkan
menjadi anak-nak Allah dan beroeh berkat-berkat dari Tuhan diawali oleh suatu
pengampunan yang telah dikerjakan oleh Kristus di kayu salib(Efesus 1;7) dan
dan pengampunan yang dari padaNya sempurna tanpa batas(1 Yoh 1;9).
Adakah diantara kita yang tidak pernah berbuat kesalahan? Tak seorang
pun. Mari melihat diri kita sendiri, segala yang telah kita perbuat dalam
kehidupan kita. Tentu tidak semuanya baik, tidak seluruhnya sempurna. Tetapi
Allah yang penuh kasih senantiasa memelihara hidup kita. Lalu, siapakah kita ini sehingga tidak mau
memberi pengampunan kepada sesama? Layakkah kita merasa sulit mengampuni
orang lain?. Allah saja, yang adalah Sang empunya langit dan bumi bersedia
dengan kerendahan mengampuni manusia, lalu mengapa kita tidak?
Jika hari ini kita gagal mengampuni, coba lagi. Kalau besok gagal
mengampuni, coba lagi. Kalau lusa gagal mengampuni, coba lagi. Maka berkat
Tuhan akan lagi, lagi, dan lagi memampukan kita semakin mudah memberikan
pengampunan. Jika kita mengandalkan kekuatan kita sendiri, tentu kita tidak
akan mampu. Mari serahkan diri kita kepada Tuhan, katakan “Inilah aku
Tuhan, dengan segala keterbatasanku untuk bisa mengampuni. Tetapi aku mau
berusaha mengampuni sesama, aku mau terus mencoba sampai pengampunan itu mampu
membersihkan hatiku dari kebencian”.
![]() |

No comments:
Post a Comment