Nama Cheff Juna, Cheff Marinka dan Cheff
Degan mungkin tidak asing lagi di pendengaran kita. Juri salah satu acara kontes memasak yang ditayangkan oleh stasiun Tv swasta ini selalu menekankan mengenai Api kecil dalam teknik memasak kepada setiap kontestan. Dalam dunia tata boga, teknik memasak dengan api kecil
sudah sangat lazim, namun bagi orang yang tidak berprofesi sebagai Cheff atau tidak terbiasa dengan dunia masak memasak, memasak
dengan api kecil hanya akan membuang-buang waktu saja. Pada hal untuk mendapatkan
tingkat kematangan yang sempurna pada masakan yang kita masak, maka harus
digunakan api yang kecil. Memang membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan
memasak dengan menggunakan api besar. Sesungguhnya penggunaan api kecil
tidak berhubungan dengan waktu namun tingkat kematangan yang kita inginkan pada masakan yang kita masak mencapai kematangan sempurna.
Dalam hidup ini, setiap
manusia pasti pernah melakukan kesalahan. Oleh karena itu, sejalan dengan
bacaan kita, sepatutnya kita saling menegur kesalahan sesama kita. Kadang kita perlu untuk menegur/mengingatkan orang
lain karena tingkah lakunya yang kurang pantas. Banyak orang yang suka menegur
secara blak-blakan tanpa lebih dahulu memahami latar belakang atau sebab akibat
terjadinya sebuah perbuatan. Menegur disini bukan dalam arti menjatuhkan atau menghakimi, melainkan saling
memperbaiki kesalahan demi kemajuan bersama. Tuhan Yesus pun memberikan teladan
yang sama kepada murid-muridNya dengan menegur mereka sebagai bentuk kasihNya
pada umat manusia (Wah 3:19).
Sesuai dengan
fungsinya, teguran digunakan untuk memperbaiki kesalahan orang lain. Teguran
biasanya disebabkan oleh adanya suatu pelanggaran atau kesalahan yang dilakukan
oleh seseorang. Seorang Master Cheff akan menegur anggotanya bila melakukan kesalahan dalam hal memasak dan memberikan masukan supaya kesalahan tersebut dapat diminimalizir. Sebagai saudara
seiman, kita juga harus bisa saling menjaga, saling mengingatkan dan saling memperhatikan. Hal ini disebabkan karena
gereja/persekutuan tidak terdiri dari orang-orang yang sudah sempurna,
melainkan orang-orang yang dibenarkan dan sedang terus menerus dikuduskan oleh
Tuhan Yesus. Karena itu, kesalahan dan kejatuhan dalam dosa bisa juga terjadi
pada orang Kristen. Bila itu terjadi, adalah tugas sesama orang Kristen untuk
menegur dan memperbaiki kesalahan satu sama lain. Dari pembahasan diatas, kita
dapat menyimpulkan bahwa teguran itu penting, tidak hanya dalam persekutuan dan
gereja, tetapi juga dalam lingkungan masyarakat sehari-hari.
Ada
3 cara untuk menyampaikan teguran yang baik:
1.
Teguran
yang kita lakukan sebaiknya menggunakan bahasa Kasih sehingga tidak menimbulkan masalah yang baru (Efesus 6:4, Kolose 3:21)
2. Teguran
yang baik tidak bersifat memojokkan atau menghakimi. posisikan diri kita ketika menegur dan Lakukanlah dengan penuh rasa hormat (1 Timotius 5:1)
3. Milikilah teladan hidup yang baik sebelum kita menegur orang lain. karena terkadang, sikap hidup lebih nyata berbicara dari pada perkataan kita(1 Petrus 5:3).
Berani mengatakan
yang benar dan menyatakan yang salah. Tindakan dan prinsip inilah yang harus
kita gunakan dalam menegur sesama. Paulus memiliki sikap dan tindakan yang dapat kita contoh atau teladani. Pengalaman
Paulus memperlihatkan pada kita bahwa tidak ada salahnya bila kita menegur
orang yang melakukan kesalahan. Adanya persekutuan kasih yang sejati harus
tampak dalam kepedulian dan kesediaan untuk menegur. Tidak ada fokus dan tujuan
yang lebih nyata dalam pelayanan yang kita kerjakan, kecuali keinginan kita agar
orang yang kita layani sungguh hidup sesuai dengan kehendak Tuhan. Inilah yang
membedakan antara orang yang hidup di dalam Kristus dan yang hidup di luar
Kristus. Orang yang hidup di luar Kristus hanya mementingkan penerimaan orang
terhadap dia agar ia beroleh keuntunga,sedangkan orang yang hidup di dalam
Kristus bertindak sebagai hamba Allah yang menyatakan kehendak Allah kepada
setiap orang yang dilayaninya. Mudah-mudahan
dengan adanya beberapa contoh diatas, kita akan berani menyatakan kebenaran.
Seperti Paulus berkata, katakan ya kalau ya, dan katakan tidak kalau tidak.
No comments:
Post a Comment