Pages

Monday, November 12, 2012

Teguran Penuh Kasih......

Nama Cheff Juna, Cheff Marinka dan Cheff Degan  mungkin tidak asing lagi di pendengaran kita. Juri salah satu acara kontes memasak yang ditayangkan oleh stasiun Tv swasta ini selalu menekankan mengenai Api kecil dalam teknik memasak kepada setiap kontestan. Dalam dunia tata boga, teknik memasak dengan api kecil sudah sangat lazim, namun bagi orang yang tidak berprofesi sebagai Cheff atau tidak terbiasa dengan dunia masak memasak, memasak dengan api kecil hanya akan membuang-buang waktu saja. Pada hal untuk mendapatkan tingkat kematangan yang sempurna pada masakan yang kita masak, maka harus digunakan api yang kecil. Memang membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan memasak dengan menggunakan api besar. Sesungguhnya penggunaan api kecil tidak berhubungan dengan waktu namun tingkat kematangan yang kita inginkan pada masakan yang kita masak mencapai kematangan sempurna.
Dalam hidup ini, setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan. Oleh karena itu, sejalan dengan bacaan kita, sepatutnya kita saling menegur kesalahan sesama kita. Kadang  kita perlu untuk menegur/mengingatkan orang lain karena tingkah lakunya yang kurang pantas. Banyak orang yang suka menegur secara blak-blakan tanpa lebih dahulu memahami latar belakang atau sebab akibat terjadinya sebuah perbuatan. Menegur disini  bukan dalam arti menjatuhkan atau menghakimi, melainkan saling memperbaiki kesalahan demi kemajuan bersama. Tuhan Yesus pun memberikan teladan yang sama kepada murid-muridNya dengan menegur mereka sebagai bentuk kasihNya pada umat manusia (Wah 3:19).
Sesuai dengan fungsinya, teguran digunakan untuk memperbaiki kesalahan orang lain. Teguran biasanya disebabkan oleh adanya suatu pelanggaran atau kesalahan yang dilakukan oleh seseorang. Seorang Master Cheff akan menegur anggotanya bila melakukan kesalahan dalam hal memasak dan memberikan masukan supaya kesalahan tersebut dapat diminimalizir. Sebagai saudara seiman, kita juga harus bisa saling menjaga, saling mengingatkan dan saling memperhatikan. Hal ini disebabkan karena gereja/persekutuan tidak terdiri dari orang-orang yang sudah sempurna, melainkan orang-orang yang dibenarkan dan sedang terus menerus dikuduskan oleh Tuhan Yesus. Karena itu, kesalahan dan kejatuhan dalam dosa bisa juga terjadi pada orang Kristen. Bila itu terjadi, adalah tugas sesama orang Kristen untuk menegur dan memperbaiki kesalahan satu sama lain. Dari pembahasan diatas, kita dapat menyimpulkan bahwa teguran itu penting, tidak hanya dalam persekutuan dan gereja, tetapi juga dalam lingkungan masyarakat sehari-hari.
Ada 3 cara untuk menyampaikan teguran yang baik:
1.      Teguran yang kita lakukan sebaiknya menggunakan bahasa Kasih sehingga tidak menimbulkan masalah yang baru  (Efesus 6:4, Kolose 3:21)
2.  Teguran yang baik tidak bersifat memojokkan atau menghakimi. posisikan diri kita ketika menegur dan  Lakukanlah dengan penuh rasa hormat (1 Timotius 5:1)
3.   Milikilah teladan hidup yang baik sebelum kita menegur orang lain. karena terkadang, sikap hidup lebih nyata berbicara dari pada perkataan kita(1 Petrus 5:3).
Berani mengatakan yang benar dan menyatakan yang salah. Tindakan dan prinsip inilah yang harus kita gunakan dalam menegur sesama. Paulus memiliki sikap dan tindakan yang dapat kita contoh atau teladani. Pengalaman Paulus memperlihatkan pada kita bahwa tidak ada salahnya bila kita menegur orang yang melakukan kesalahan. Adanya persekutuan kasih yang sejati harus tampak dalam kepedulian dan kesediaan untuk menegur. Tidak ada fokus dan tujuan yang lebih nyata dalam pelayanan yang kita kerjakan, kecuali keinginan kita agar orang yang kita layani sungguh hidup sesuai dengan kehendak Tuhan. Inilah yang membedakan antara orang yang hidup di dalam Kristus dan yang hidup di luar Kristus. Orang yang hidup di luar Kristus hanya mementingkan penerimaan orang terhadap dia agar ia beroleh keuntunga,sedangkan orang yang hidup di dalam Kristus bertindak sebagai hamba Allah yang menyatakan kehendak Allah kepada setiap orang yang dilayaninya. Mudah-mudahan dengan adanya beberapa contoh diatas, kita akan berani menyatakan kebenaran. Seperti Paulus berkata, katakan ya kalau ya, dan katakan tidak kalau tidak. 


No comments:

Post a Comment